Chapter 1: Gadis dan Serigala
Benua Keempat, Musim Angin Berembus, Musim Gugur — Festival Serigala Tia
Tia: Warna di antara kuning jinangga dan merah-oranye. Istilah ini juga merujuk pada pasukan kavaleri bersenjata yang mengenakan seragam berwarna serupa. Saat ini, lima ratus prajurit berpakaian Tia mengenakan seragam militer dengan warna kuno tersebut.
— Catatan Kantor Musim Semi, Departemen Busana
Tahun kesembilan Musim Angin Berembus.
Benua ini telah melewati masa paling terang dari Matahari Terik. Vitalitas yang dibawa angin musim itu membuat seluruh alam berkembang dengan subur. Hutan-hutan menjadi semakin lebat, pegunungan dipenuhi kehidupan, dan berbagai jenis hewan berkembang biak dalam jumlah yang jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Di antara mereka, kawanan serigala menjadi yang paling diuntungkan.
Dengan mangsa yang berlimpah, mereka tumbuh semakin kuat. Mereka tak lagi bersembunyi dalam bayang-bayang hutan. Setelah menyerap vitalitas dari Aspek Matahari Terik, bulu abu-abu mereka perlahan berubah menjadi kuning-oranye dan merah darah, menjadikan mereka lebih ganas, lebih liar, dan lebih berbahaya daripada sebelumnya.
Angin lembut berembus melewati hutan.
Sehelai daun kuning pucat dengan semburat merah perlahan terlepas dari rantingnya. Daun itu melayang mengikuti arah angin dan akhirnya mendarat di atas kepala seorang gadis yang berdiri di bawah pohon.
Tepian daun yang kering menggesek rambut panjangnya yang putih seperti salju dan lembut bak sutra. Sesaat kemudian, daun itu tergelincir turun dan jatuh ke lantai hutan yang dipenuhi dedaunan gugur.
Di tengah keheningan hutan, seorang gadis sedang berhadapan dengan seekor serigala.
Sylutia menatap makhluk itu dengan gugup.
Di hadapannya berdiri seekor serigala berbulu merah-oranye yang mengeluarkan geraman rendah. Salah satu tangannya mencengkeram ujung rok dengan erat, sementara tangan lainnya menggantung di udara dengan sedikit gemetar.
Matanya terus bergerak ke kiri dan kanan, mati-matian mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata.
Apa saja boleh. Dahan pohon, tongkat kayu, batu... apa pun lebih baik daripada melawan serigala sialan ini dengan tangan kosong.
Dia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Ingatan terakhirnya menunjukkan dirinya duduk di dalam bus menuju kampung halaman. Namun pada detik berikutnya, dia sudah terbangun di hutan asing ini.
Setelah berjalan hampir satu jam tanpa menemukan tanda-tanda kehidupan manusia, jika bukan karena segala sesuatu terasa begitu nyata, dia pasti mengira dirinya sedang bermimpi.
“Grrr...”
Geraman itu terdengar lagi.
Serigala merah memperlihatkan taringnya.
Gusi merah cerah terlihat jelas di balik rahangnya yang terbuka. Bulu kuning-oranye di punggungnya sedikit berdiri. Tubuh bagian depannya merendah, sementara mata segitiganya terkunci pada Sylutia.
Makhluk itu sedang mengukur lawannya.
Sebagai serigala yang telah terkontaminasi Aspek Matahari Terik, ia bukan lagi binatang biasa. Sedikit kecerdasan telah lahir di balik nalurinya.
Kulit putih sang gadis yang halus, aroma tubuhnya yang bersih dan lembut—semuanya berteriak bahwa ini adalah mangsa yang sangat langka.
Meski belum pernah memangsa manusia sebelumnya, naluri dalam darahnya mengatakan bahwa makhluk di depannya adalah makanan paling lezat yang pernah ditemuinya.
Mangsa.
Miliknya.
Serigala itu bergerak.
Sylutia bahkan hampir tidak bisa menangkap gerakannya. Namun saat kepala serigala sudah berada kurang dari setengah meter di depannya, tubuhnya bereaksi secara naluriah.
Dia memutar tubuh ke samping.
Lengan kanannya melindungi dada. Jemari ramping yang tersembunyi di balik lengan baju bergerak cepat dan menempel di kepala serigala.
Jari manisnya menekan tepat ke bola mata makhluk itu.
Sentuhan pada bulu kasar dan mata yang basah membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak karena takut, tetapi dia tetap mendorong sekuat tenaga.
Kepala serigala terdorong ke samping.
Serangan pertamanya meleset.
Tanpa sempat berpikir, Sylutia langsung berlari membungkuk ke depan. Hampir tersandung, dia menyambar sebatang dahan kering yang sempat dilihatnya sebelumnya.
Ketika dia berbalik, serigala merah itu sudah menerkam lagi.
Karena jatuh saat mengambil dahan tersebut, dia tak sempat berdiri.
Yang bisa dilakukannya hanyalah menarik kedua kakinya ke belakang sekuat mungkin.
Rahang serigala gagal menggigit betisnya.
Yang tercabik hanyalah ujung roknya.
Namun itu belum berakhir.
Mata makhluk itu dipenuhi keganasan saat kembali menerkam, kali ini mengarah langsung ke tenggorokannya.
Pada momen yang sangat kritis itu, Sylutia menusukkan dahan kayu yang digenggamnya lurus ke depan.
Tepat ke dalam mulut serigala yang terbuka lebar.
Dahan kasar itu menghunjam tenggorokan lunak di bagian dalam mulutnya.
Serigala merah tersentak.
Ia mundur sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan liar, berusaha memuntahkan benda asing yang menyumbat tenggorokannya.
Getaran hebat merambat melalui dahan yang masih digenggam Sylutia.
Dia tahu.
Dia sama sekali tidak boleh melepaskannya.
Satu tangan menekan ujung dahan agar tetap tertancap.
Tangan lainnya mencengkeram bulu belakang leher serigala, mencoba memaksanya tetap berada di tanah.
Bulu kuning-oranye itu kasar dan menusuk kulit.
Daging di bawahnya keras seperti batu.
Kuat sekali...
Untuk mencegah serigala meloloskan diri, Sylutia bahkan berlutut di atas tubuhnya.
Lututnya menekan rusuk makhluk itu.
Beberapa kali dia hampir kehilangan keseimbangan.
Cakar serigala terus merobek rok dan menggores kulit kakinya, meninggalkan rasa perih yang membakar.
Waktu berlalu.
Menit demi menit terasa seperti berjam-jam.
Sampai akhirnya...
Perlawanan serigala mulai melemah.
Busa bercampur darah mengalir dari mulutnya.
Meski begitu, Sylutia masih belum berani lengah.
Dia terus mendorong dahan itu lebih dalam hingga tubuh serigala benar-benar berhenti bergerak.
Tidak ada lagi detak jantung.
Tidak ada lagi perlawanan.
Barulah dia berani melepaskan napas panjang.
Perlahan, sang gadis berdiri.
Punggungnya telah basah oleh keringat.
Beberapa helai rambut putih menempel di dahinya.
Dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantung yang masih berdetak keras.
Setelah itu, barulah dia memperhatikan mayat serigala di kakinya.
Kuning-oranye.
Merah darah.
Dan sedikit hitam.
Sylutia belum pernah melihat serigala dengan warna seperti ini.
Dalam ingatannya memang ada beberapa jenis serigala berwarna kemerahan, tetapi tidak satu pun yang menyerupai makhluk ini.
Dia berjongkok dan menyentuh bulunya.
Rasa hangat yang sangat samar merambat ke ujung jarinya.
Panas itu paling lemah di dekat akar bulu, dan semakin kuat menuju ujungnya, bahkan terasa sedikit menyengat.
Serigala Tia
Pada pertengahan hingga akhir Musim Angin Berembus, sebagian serigala yang terpapar kekuatan Aspek Matahari Terik mengalami perubahan warna bulu menjadi kuning-oranye dan disebut sebagai Serigala Tia.
Ketika seluruh bulu tubuh mereka berubah menjadi merah darah menyala, mereka memasuki Tingkat Pertama dan dikenal sebagai Serigala Merah.
Makhluk ini sangat berbahaya bagi desa-desa dan ternak sehingga sering muncul dalam dongeng dan cerita rakyat.
Setiap musim, para pemburu memasuki pegunungan untuk memburu mereka. Banyak bangsawan juga menjadikan perburuan ini sebagai hiburan. Kulit hasil buruan digantung di ruang tamu sebagai simbol keberanian dan kehormatan.
Tradisi tersebut kemudian dikenal sebagai Festival Serigala Tia.
Catatan: Kulit Serigala Tia dan Serigala Merah mengandung sedikit kekuatan Aspek Matahari Terik sehingga memiliki kemampuan menyimpan panas yang sangat baik selama musim dingin.
Sylutia berkedip.
Pengetahuan itu tiba-tiba muncul begitu saja di dalam kepalanya.
Dia tahu nama makhluk tersebut.
Dia tahu asal-usulnya.
Dia bahkan mengetahui sebagian sejarah dan kebudayaan dunia ini.
Kenapa aku tahu semua itu?
Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban.
Namun satu hal pasti.
Masih banyak misteri yang harus dia pecahkan.
Setelah mencoba menyeret bangkai serigala dan gagal karena beratnya, Sylutia akhirnya menyerah.
Dia tidak memiliki alat untuk menguliti ataupun membedahnya.
Lebih penting lagi, dia sama sekali tidak tahu cara melakukannya.
Setelah berpikir beberapa saat, dia memutuskan untuk meninggalkan bangkai itu dan melanjutkan perjalanan keluar dari hutan.
Beberapa menit kemudian, setelah merapikan pakaian dan rambutnya, dia kembali menyusuri jalan setapak yang teduh.
Berdasarkan posisi matahari, saat itu mungkin sekitar pukul tiga atau empat sore.
Bagian terpanas hari telah berlalu.
Dia belum tahu harus mencari makanan di mana.
Dia juga belum tahu di mana akan bermalam.
Namun anehnya, dia belum merasa lapar.
Tubuh ini jelas bukan tubuhnya yang dulu.
Meski begitu, menggerakkannya terasa sangat alami.
Seolah tubuh ini memang miliknya sejak lahir.
Sambil berjalan, Sylutia mulai menyusun kembali ingatannya.
Dia masih mengingat dengan jelas alasan kepulangannya.
Sebuah telepon dari kampung halaman.
Karena itulah dia mengambil cuti tahunan dan meninggalkan kota tempatnya bekerja selama bertahun-tahun.
Sudah terlalu lama sejak terakhir kali dia pulang.
Sejak lulus SMA, masuk universitas, lalu bekerja di kota lain, jumlah hari yang dia habiskan di kampung halaman bisa dihitung dengan jari.
Pikiran itu membawanya kembali ke masa kecil.
Ke desa pegunungan tempat kakek dan neneknya tinggal.
Ke pegunungan hijau, sungai kecil, kambing-kambing yang merumput, dan hari-hari musim panas yang terasa begitu bebas.
Buah kastanya yang berduri.
Buah beri liar yang tumbuh di pinggir jalan.
Kicauan burung-burung asing.
Burung hantu yang bersembunyi di antara dedaunan.
Semua kenangan itu masih hidup di dalam benaknya.
Masa kecil anak kota memang membosankan.
Sekolah.
Bimbingan belajar.
Pekerjaan rumah.
Ujian.
Hanya ketika berada di rumah kakek-neneknya dia benar-benar bisa bernapas dengan lega.
Tak ada yang memaksanya belajar.
Tak ada yang mengejarnya dengan nilai.
Yang ada hanya kebebasan.
Capung.
Kunang-kunang.
Kupu-kupu.
Bahkan ular yang bersembunyi di tumpukan kayu bakar.
Segala sesuatu yang sebelumnya hanya ada di buku pelajaran muncul hidup-hidup di hadapannya.
Itulah masa paling membahagiakan dalam hidupnya.
Dan kemudian ingatannya sampai pada hari itu.
Hari ketika dia duduk di dalam bus menuju kampung halaman.
Cahaya matahari menembus pepohonan di pinggir jalan dan jatuh ke wajahnya.
Pandangannya menjadi samar.
Dia teringat memancing bersama sepupu-sepupunya.
Menangkap ikan karper krusian kecil.
Berkerumun di sekitar ember.
Bingung harus diapakan hasil tangkapan mereka.
Pada akhirnya, bibinyalah yang memasak sup ikan untuk mereka.
“Sayang banget Kakek gak sempat ikut makan...”
Sylutia menghela napas pelan.
Kenangan itu berasal dari saat dirinya berusia sepuluh tahun.
Kakeknya tertawa saat mendengar cerita tersebut.
Beliau bercanda bahwa dirinya tidak kebagian makan sama sekali.
Lalu meminta mereka menangkap ikan lagi untuknya.
Namun kesempatan itu tidak pernah datang.
Orang-orang dewasa melarang mereka bermain di sungai karena takut tenggelam.
Waktu terus berjalan.
Kenangan itu pun perlahan memudar.
Sampai beberapa hari lalu.
Sampai telepon itu datang.
Kabar tentang kepergian Kakek.
Dan perjalanan pulang yang tidak pernah berhasil diselesaikannya.
Sylutia menunduk.
Dia tidak tahu apakah dirinya bisa kembali ke dunia asal.
Mungkin bisa.
Mungkin tidak.
Mungkin bahkan membutuhkan waktu yang sangat lama.
Namun kerinduannya terhadap kampung halaman tetap ada.
Kenangan-kenangan hangat itu masih hidup di dalam hatinya.
Dengan kedua tangan sedikit direntangkan untuk menjaga keseimbangan, dia menuruni lereng gunung.
Keakraban terhadap medan pegunungan yang pernah dia miliki saat kecil perlahan kembali.
Kakinya melangkah ringan melewati semak-semak dan jalan terjal.
Menembus lapisan demi lapisan bayangan hutan.
Lalu, tepat sebelum matahari tenggelam di ufuk barat...
Dia melihat asap.
Asap tipis yang membumbung dari kejauhan.
Sylutia mempercepat langkahnya.
Dan akhirnya melihat sebuah desa.
Desa kuno yang damai.
Dikelilingi ladang luas.
Tidak ada kabel listrik.
Tidak ada jalan beton.
Hanya rumah-rumah batu dan kayu.
Sebuah kincir angin tua berputar perlahan di tengah ladang gandum.
Ikatan-ikatan jerami tersusun rapi di dataran.
Sebuah kereta berlapis besi bergerak lambat di jalan tanah.
Makhluk berkulit seperti tameng menariknya ke depan.
Pemandangan itu membuat Sylutia akhirnya memahami kenyataan yang selama ini berusaha dia hindari.
Ini bukan dunianya.
Ini adalah dunia yang sama sekali berbeda.
Dan jika dia ingin kembali ke kampung halaman...
Mungkin jalan yang harus ditempuh akan sangat panjang.
Sangat panjang.
Bukannya biasanya aku menerima surat dari Kakek, pulang kampung untuk mewarisi ladang dan peternakan, lalu menjalani kehidupan pedesaan yang santai?
Kenapa malah jadi begini?
Sylutia menggerutu dalam hati.
Lalu, dengan langkah pelan namun mantap, dia berjalan menuju desa di kaki gunung itu.